College

6 Fakta Kuliah Kedokteran! Belajar Seumur Hidup?

Fakultas kedokteran adalah salah satu fakultas favorit sejak dulu. Selain prestise yang masih tinggi, dokter masih memiliki tempat yang spesial di hati masyarakat. Sehingga, calon mahasiswa mahasiswi berbondong-bondong memilih jurusan ini saat ujian masuk perguruan tinggi negeri. Bahkan, bagi mereka yang orangtuanya memiliki kantong tebal, fakultas kedokteran di universitas swasta pun menjadi alternatif.
Tapi sebelum kamu memasuki dunia kedokteran, berikut hal yang harus kamu ketahui :

1. Masa studi yang lama

Menjadi seorang dokter adalah cita-cita saya sejak kecil. Awalnya saya mengira masa studi fakultas kedokteran hingga akhirnya menjadi seorang dokter sama dengan fakultas lain kurang lebih 4 tahun. Namun, setelah saya memasuki semester awal kuliah di fakultas kedokteran di Aceh, barulah saya menyadari bahwa untuk menjadi seorang dokter umum saya harus menempuh pendidikan kurang lebih 6 tahun. Seorang mahasiswa kedokteran harus menempuh pendidikan pre-klinik (belajar – mengajar di kampus) paling cepat 3,5 tahun. Dilanjutkan dengan pendidikan kepanitraan klinik (koass/dokter muda)di rumah sakit pendidikan kurang lebih 2 tahun. Itu untuk kamu yang dapat menjalani pendidikan yang lurus-lurus saja alias lulus semua ujian tepat waktu. 


2. Sistem pendidikan menggunakan sistem PBL

Sejak semester 1 mahasiswa kedokteran sudah diperkenalkan dengan sistem PBL (Problem Base Learning). Disini, mahasiswa diminta untuk berperan aktif dalam sebuah kelompok diskusi (kelompok tutorial) untuk membahas sebuah kasus. Dalam ruang diskusi ini, mahasiwa membahas kasus secara mandiri yang dipandu oleh seorang tutor. Dengan metode seperti ini, diharapkan mahasiswa dapat berpikir kritis dalam menghadapi sebuah kasus. Selain itu, ada juga mata kuliah skills lab. Disini, mahasiswa diajarkan skill kedokteran dengan praktik langsung atau menggunakan manekin. Selain itu, mahasiswa kedokteran juga harus mengikuti perkuliahan dengan dosen, praktikum anatomi, histologi, fisiologi, patologi, mikrobiologi, dll. Di akhir semester, mahasiswa kedokteran juga harus menyelesaikan skripsi untuk meraih gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked)


3. Tantangan dunia per-koas-an

Apapun profesinya, semua orang pasti melalui fase terendah untuk bisa meraih gelar tertentu. Kalau saya dan temen-temen saya bilang “koas adalah kasta terendah di rumah sakit”. Di dunia per-koas-an harus tahan banting, pantang menyerah dan pasang muka tembok. Setiap pagi koass harus periksa pasien subuh-subuh, ikut visit dengan dokter spesialis, mengerjakan planning pasien. Belum lagi tugas laporan kasus, morning report, baca jurnal. Setumpuk tugas dan pekerjaan inilah yang membuat saat-saat dimana koass tidak sempat dandan dan kantong mata menjadi seperti mata panda. Pendidikan kepanitraan klinik (koass) dibagi menjadi stase besar dan stase kecil. Stase besar terdiri dari 4 bagian (ilmu penyakit dalam, ilmu kesehatan anak, obstetric dan gynecology, ilmu bedah) dan stase kecil terdiri dari beberapa bagian. Di akhir setiap stase, koass harus melalui ujian teori dan ujian praktik. Kalau ga lulus ujian akhir stase gimana? Yaa ngulang stase lagi. Ngulang stase lagi, ya makin lama deh jadi dokternya.


4. Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) 

Setelah menyelesaikan kepanitraan klinik selama kurang lebih 2 tahun di rumah sakit pendidikan, mahasiswa kedokteran harus mengikuti ujian kompetensi. UKMPPD adalah ujian terakhir yang harus dilalui seorang mahasiswa kedokteran untuk meraih gelar dokter. UKMPPD terdiri dari ujian CBT (Computer Based Test) dan ujian OSCE (Objective Structure Clinical Examination). Ujian CBT terdiri dari 200 soal teori pilihan berganda sedangkan ujian OSCE terdiri dari 12 stase sesuai dengan kompetensi dokter umum. Banyak sejawat-sejawat saya yang harus mengikuti UKMPPD berulang kali karena memang soal yang diberikan cukup sulit. Soal yang diberikan terdiri dari beberapa tingkat kesulitan. Karena kompetensi dokter umum sangat luas, sehingga butuh waktu yang lumayan lama untuk mengingat kembali teori -teori yang telah dipelajari selama preklinik dan kepanitraan klinik. Berikut tips UKMPPD


5. Program internsip 1 tahun

Yudisium dan  wisuda setelah UKMPPD bukan berarti dokter fresh graduate dapat melamar pekerjaan atau membuka praktik sendiri. Dokter fresh graduate harus mengikuti progtam internsip selama 1 tahun. Wahana program internsip tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia. Sebelum mengikuti program internsip dokter harus mengurus STR internsip ke Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Setelah mengikuti program insternsip selama 1 tahun, barulah dokter dapat mengurus STR Defenitif dan dapat menentukan karir selanjutnya, apakah akan mengambil spesialis, melanjutkan S2, membuka klinik, menjadi dokter IGD di RS, melamar cpns, dll.


6. Long Life Learning

Profesi dokter adalah salah satu profesi yang dituntut untuk belajar sepanjang hayat. Setiap dokter dituntut untuk memperbaharui ilmunya dengan mengikuti berbagai seminar. Pelatihan ACLS/ATLS/Hiperkes merupakan syarat yang harus dipenuhi seorang dokter untuk lebih mudah mendapat pekerjaan di rumah sakit. Seorang dokter juga dituntut untuk membaca jurnal jurnal terbaru untuk mengupdate ilmunya karena ilmu kedokteran adalah ilmu yang terus berkembang. Bila ada waktu dan rezeki, tidak ada salahnya untuk mengambil pendidikan spesialis. Masa studi pendidikan spesialis bervariasi antara 3,5 tahun hingga 5 tahun tergantung bidang spesialisasi yang ditekuni.


Jika passion kamu memang di dunia kedokteran dan kamu merasa senang saat berinteraksi dan mengobati pasien, persiapkan diri kamu untuk hal ini. Harus tetap pendirian dan pantang menyerah selama proses pendidikan. Harus ingat keringat dan usaha orangtua kita untuk membiayai kuliah di fakultas kedokteran. Welcome to jungle!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *